Pak ustaz yang terhormat,
saya ingin tanyakan bagaimana asal muasal adanya Ka'bah? Saya pernah baca suatu
buku dahulu kala Ka'bah tersebut tempat sujudnya para malaikat kepada Allah
sebelum nabi Adam diturunkan ke bumi, apakah benar? Apakah benar batu Hajar
Aswad dari surga dan kenapa berubah dari hitam menjadi putih? Karena dosa bani
Adam apakah benar? Saya pernah membaca banyak hadits yang menerangkan hal
tersebut. Sebelumnya terima kasih.
Assalamu alaikun wr. wb.
jawaban
Assalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
1. Pendirian Ka'bah
1. Pendirian Ka'bah
Para ulama berbeda pendapat
dalam menetapkan pada zaman apa Ka'bah dibangun. Di antaranya ada dua pendapat
besar yang berkembang.
a. Pendapat Pertama
Menurut pendapat ini
Ka'bah baru dibangun oleh nabi Ibrahim alaihissalam.
Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Katsir dengan landasan riwayat dari Ibnu
Abbas ra, "Seandainya manusia tidak berhaji ke rumah ini (ka'bah), maka
Allah tumbukkan langit dengan bumi."
Selain itu juga dengan
dalil ayat-ayat berikut ini:
Dan (ingatlah), ketika
Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan),
"Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku." (QS. Al-Hajj: 26)
Sesungguhnya rumah yang
mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di
Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya
terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa
memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. (QS. Ali Imran:
96-97)
Dan (ingatlah), ketika
Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya
berdoa), "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami),
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS.
Al-Baqarah: 127)
b. Pendapat Kedua
Pendapat kedua mengatakan
bahwa Ka'bah sudah berdiri jauh sebelum zaman nabi Ibrahim, yaitu sejak zaman
nabi Adam alaihissalam. Bahkan ketika Adam turun ke muka bumi, Ka'bah sudah
berdiri tegak dibangun oleh para malaikat. Ka'bah memang didirikan untuk Adam
melakukan ibadah kepada Allah SWT di bumi.
Keterangan ini mereka
dapat dari hadits dalam kitab Ad-Dalail yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari
shahabat Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu secara marfu'.
Dan di dalamnya terkandung kisah tentang pembangunan Ka'bah di sejak masa nabi
Adam. Namun secara sanad, periwayatan haditsi ini secara sendirian lemah
(dhaif).
Maka hadits ini dikuat
dengan riwayat dari jalur lainnya, yaitu apa yang diriwayatkan secara mauquf
dari Ibnu Abbas ra. sebagaimana yang ada pada Al-Azraqi, Abu Syaikh dan Ibnu
Asakir. Pendapat ini manqul dari Muhammad bin Kaab Al-Qurazhi dan 'Atho dan
lainnya. Az-Zarqani merajihkan hadits-haditsnya sebagaimana beliau tulis dalam
kitab syarahnya pada kitab Al-Muwaththa'. Di sana beliau menuliskan,
"Semua riwayat ini saling menguatkan satu dengan yang lainnya."
2. Hajar Aswad
Hajar Aswad berarti batu
hitam. Batu itu kini ada di salah satu sudut Ka`bah yang mulia yaitu di sebelah
tenggaradan menjadi tempat start dan finish untuk melakukan ibadah tawaf di
sekeliling Ka`bah.
Diletakkan dalam bingkai
dan pada posisi 1,5 meter dari atas permukaan tanah. Batu yang berbentuk bulat
telur dengan warna hitam kemerah-merahan. Di dalamnya ada titik-titik merah
campur kuning sebanyak 30 buah. Dibingkai dengan perak setebal 10 cm buatan
Abdullah bin Zubair, seorang shahabat Rasulullah SAW.
Batu ini asalnya dari
surga sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh
sejumlah ulama hadis.
Dari Ibnu Abbas ra.
bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Hajar Aswad turun dari surga berwarna lebih
putih dari susu lalu berubah warnanya jadi hitam akibat dosa-dosa bani Adam." (HR. Timirzi, An-Nasa`I, Ahmad, Ibnu Khuzaemah
dan Al-Baihaqi).
Dari Ibnu Abbas ra.
bahwa Rasulullah SAW bersada, ”Demi Allah, Allah akan membangkit hajar Aswad
ini pada hari qiyamat dengan memiliki dua mata yang dapat melihat dan lidah
yang dapat berbicara. Dia akan memberikan kesaksian kepada siapa yang pernah
mengusapnya dengan hak.” (HR.
Tirmizy, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Khuzaemah, Ibnu Hibban, At-Tabrani,
Al-Hakim, Al-Baihaqi, Al-Asbahani).
At-Tirmizi mengatakan
bahwa hadits ini hadits hasan. Sedangkan Albani mengatakan bahwa hadits ini
shahih dalam kitab Shahihul Jami` no. 2180, 5222 dan 6975.
Dari Abdullah bin Amru
berkata, ”Malaikat Jibril telah membawa Hajar Aswad dari surga lalu
meletakkannya di tempat yang kamu lihat sekarang ini. Kamu tetap akan berada
dalam kebaikan selama Hajar Aswad itu ada. Nikmatilah batu itu selama kamu
masih mampu menikmatinya. Karena akan tiba saat di mana Jibril datang kembali
untuk membawa batu tersebut ke tempat semula.” (HR. Al-Azraqy).
Bagaimanapun juga Hajarul
Aswad adalah batu biasa, meskipun banyak kaum muslimin yang menciumnya atau
menyentuhnya, hal tersebut hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah
SAW. Umar bin Al-Khattab berkata, “Demi Allah, aku benar-benar mengetahui bahwa
engkau adalah batu yang tidak bisa memberi madharat maupun manfaat. Kalalulah
aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu aku pun tidak akan melakukannya.”
Wallahu a'lam
bishshawb, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.







0 komentar:
Poskan Komentar